Selasa, 08 Oktober 2013
Selasa, 22 Januari 2013
Hubungan Filsafat dan Ilmu
Hubungan Ilmu dengan Filsafat pada mulanya ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus menjadi bagian dari filsafat. Dan filsafat merupakan induk dari segala ilmu karena berbicara tentang abstraksi/sebuah yang ideal.
Filsafat
tidak terbatas, sedangkan ilmu terbatas sehingga ilmu menarik bagian filsafat
agar bisa dimengerti oleh manusia.
Filsafat
berusaha untuk mengatur hasil-hasil dari berbagai ilmu-ilmu khusus ke dalam
suatu pandangan hidup dan pandangan dunia yang terstu padukan, komprehensip
(tidak ada sesuatu bidang yang berada di luar bidang filsafat) dan konsisten
9uraian kefilsafatan tidak menyusun pendapat-pendapat yang saling
berkontardiksi).
Pada
hakikatnya filsafat dan ilmu saling terkait satu sama lain, keduanya tumbuh
dari sikap refleksi, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan pada kebenaran. Filsafat
dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu, sedangkan
ilmu tidak mampu mempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan keabsahannya
sendiri.
Ilmu
merupakan masalah yang hidup bagi filsafat dan membekali filsafat dengan
bahan-bahan deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat.
Filsafat dapat memperlancarr integrasi antara ilmu-ilmu yang dibutuhkan.
Filsafat adalah meta ilmu, refleksinya mendorong peninjauan kembali ide-ide dan
interpretasi baik dari ilmu maupun bidang-bidang lain.
Ilmu
merupakan konkritisasi dari filsafat. Filsafat dapat dilihat dan dikaji sebagai
suatu ilmu, yaitu ilmu filsafat. Sebagai ilmu, filsafat memiliki objek dan
metode yang khas dan bahkan dapat dirumuskan secara sistematis. Ilmu filsafat
adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji seluruh fenomena yang dihadapi manusia
secara kritis refleksi, integral, radikal, logis, sistematis, dan universal
(kesemestaan).
Sebagai
fenomena ilmu filsafat dapat dilihat dari tema besarnya, yaitu, ontologi (Definisi,
pengertian, konsep, mengkaji keberadaan sesuatu, membahas tentang ada, yang
dapat dipahami baik secara konkret, faktual, transendental, atau pun metafisis),
epistemologi (Substansi, membahas pengetahuan yang akan dimiliki manusia
apabila manusia itu membutuhkannya), dan aksiologi (manfaat, membahas kaidah norma dan nilai yang ada pada
manusia).
Sumber
:
Realitas dan Objektifitas,
refleksi kritis atas cara kerja ilmiah (Irmayanti M. Budianto)
FIL.B4.198
Jumat, 18 Januari 2013
Pengertian Filsafat
Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa yunani, yaitu Philosophia. Philo atau philen berarti cinta, sophia berarti kebijaksanaan. Gabungan
kedua kata tersebut dimaksud berarti cinta kebijaksanaan.
Filsafat adalah upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan
penggambaran manusia di dunianya menuju akherat secara mendasar. Filsafat
mempelajari apa saja yang menjadi isi alam semesta mulai dari benda mati,
tumbuhan, hewan, manusia, dan sang pencipta. Selanjutnya, filsafat mempelajari
menurut bagian dan jenisnya maupun
secara bagian-bagian dan jenis-jenis itu di dalam suatu keutuhan secara
keseluruhan.
Berfilsafat adalah berfikir. Hal ini tidak berarti setiap
berfikir adalah berfilsafat, karena berfilsafat itu berfikir dengan cara-cara
tertentu. Kata “adalah’” dalam “berfilsafat adalah berfikir” mengandung
pengertian bahwa berfilsafat itu tidak identik dengan berfikir melainkan
berfilsafat termasuk dalam berfikir. Jadi dapat dipastikan bahwa orang yang
berfilsafat itu sudah pasti berfikir, sedangkan orang yang berfikir belum tentu
berfilsafat.
Berfilsafat dapat pula bermula dari adanya suatu kesadaran
akan keterbatasan pada diri manusia. Berfilsafat kadang-kadang di mulai apabila
manusia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama di dalam
menghadapi kejadian-kejadian alam.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok
orang yang merupakankonsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.
Filsafat juga diartikan sebagai suati sikap seseorang yang sadar dan dewasa
dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalamdan ingin melihat dari segi yang
luias dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Berfilsafat tidak lain adalah pencarian sikap kritis
terhadap suatu hal. Dalam pencarian sikap kritis itu, upaya manusia berwujud
memahami persoalan sampai seakar-akarnya.
Berfilsafat berarti juga perenungan yang mendalam terhadap sesuatu,
misalnya terhadap sebuah lingkungan, kehidupan bermasyarakat, relasi dengan
sesama dan sebagainya. Filsafat juga
dapat diartikan sebagai proses upaya berfikir kritis manusia terhadap sesuatu
hal, baik yang berada di sekitar manusia maupun yang lainnya.
Filsafat diartikan sebagai mencari pengetahuan yang berguna
bagi manusia ataupun mencoba mencari suatu kebenaran melalui proses berfikir
manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)

